Doa Anak
Doa Keluarga
Pribadi
Maria

Latest Stories

Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Renungan Selasa, 30 Desember 2025: Kisah Janda / Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, dan Yusuf; 1Yoh 2:12-17; Mzm 96:7-8a.8b-9.10; Luk 2:36-40. BcO Kid 1:12-2:7

<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Di masa Palestina kuno, tatanan sosial menempatkan perempuan janda di tingkatan terendah, sebuah kelompok yang sering kali dianggap tidak berarti dan tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Namun, bagi Hana, seorang janda yang telah berusia 84 tahun, status sosial yang rendah dan penderitaan hidup tidak membuatnya pahit hati. Sebaliknya, ia memilih untuk tidak berontak kepada Allah dan justru menambatkan seluruh hidupnya dalam penyerahan diri yang total.

Kesetiaan Hana teruji melalui ketekunannya yang luar biasa, di mana ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan terus beribadah siang malam dengan berpuasa serta berdoa. Kedekatan batin inilah yang memampukannya memiliki kepekaan rohani untuk mengenali kehadiran Tuhan. Buah dari kesabarannya terbayar lunas ketika ia diizinkan bertemu dengan Kanak-kanak Yesus yang sedang dipersembahkan oleh Maria dan Yusuf di Bait Allah.

Sebagai seorang nabi, Hana segera menyadari bahwa bayi tersebut adalah jawaban atas doa-doa bangsa Yahudi yang sedang menderita di bawah penindasan kekaisaran Romawi. Ia pun dengan penuh syukur mewartakan tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem. Hana menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Pembebas sejati dari keturunan Daud yang akan memulihkan harapan bangsa yang sedang dijajah tersebut.

Kisah Hana menjadi teguran sekaligus pengingat bagi kita di masa kini. Sering kali kita merasa ragu akan kemampuan Yesus dalam menyelamatkan atau memulihkan keadaan kita, padahal kita secara sadar mengakui bahwa Dia adalah Mesias. Melalui teladan Hana, kita diajak untuk tetap setia dan percaya sepenuhnya pada kuasa penyelamatan Tuhan, bahkan di tengah situasi yang tampaknya paling tidak berdaya sekalipun.

INJIL: Luk 2:36-40

Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

BACAAN: 1Yoh 2:12-17

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat.

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.


Renungan Senin, 29 Desember 2025: Penyucian Diri / Hari ke-5 Oktaf Natal; 1Yoh 2:3-11; Mzm 96; Luk 2:22-35


<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Hari ke-40 adalah hari pentahiran bagi seorang ibu yang habis melahirkan. Upacara penghapusan kenajisan itu wajib, agar dapat ikut lagi melaksanakan peribadatan.

Maria dan Yusuf pergi ke Bait Allah untuk upacara pentahiran serentak mempersembahkan Yesus kepada Tuhan. Simeon menyambut Anak itu dan memuji Tuhan karena karya penyelamatan-Nya telah dinyatakan. Ia yakin bahwa apa yang selama ini diharapkannya, sekarang telah berada di tangannya. Ia merasa segalanya telah terpenuhi dan tiada keinginan lain dalam hidupnya. Berkat terang Roh Kudus, dalam diri Kanak-Kanak Yesus itu ia melihat keselamatan yang dijanjikan Allah

Karya penyelamatan yang dinubuatkannya itulah yang akan menimbulkan perbantahan dan perpecahan di antara orang-orang Yahudi: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menimbulkan perbantahan...”

Maka, mereka yang menerima Yesus akan mendapat keselamatan, sedangkan yang menolak-Nya akan mengalami kejatuhan. Semua itu akan mendatangkan penderitaan untuk Maria: “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Tidak jarang kita mengklaim kelompok kita saja yang akan diselamatkan. Padahal, Allah menjanjikannya kepada semua orang percaya.

INJIL:  Luk 2:22-35

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.

Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan —dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri—supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."


BACAAN: 1Yoh 2:3-11

Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti
perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu, sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.

Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan; ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

Renungan Minggu, 28 Desember 2025: Keluarga: Jalan Menuju Kesucian / Pesta Keluarga Kudus: Sir 3:2-6,12-14; Mzm 128; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15,19-23


<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Sebuah peristiwa bersejarah terjadi pada 21 Oktober 2001 ketika Paus Yohanes Paulus II memberikan gelar beato dan beata kepada sepasang suami-istri, Luigi Beltrame Quattrocchi dan Maria Corsini. Momen ini menjadi sangat istimewa karena untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik, pasangan suami-istri bersama-sama diangkat sebagai teladan kesucian. Melalui peristiwa ini, Gereja ingin menegaskan bahwa keluarga bukanlah sekadar institusi sosial, melainkan jalan nyata menuju kekudusan. Kesucian hidup berkeluarga bukanlah sebuah angan-angan, melainkan sesuatu yang mungkin, indah, dan sangat dibutuhkan oleh Gereja serta masyarakat modern saat ini.

Luigi dan Maria, yang menikah pada tahun 1905, merupakan pasangan awam biasa yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang luar biasa. Di tengah tantangan iman yang besar pada awal abad ke-20, mereka berhasil menjaga nyala iman dalam keluarga dan menanamkannya kepada keempat anak mereka. Kekuatan spiritual mereka bersumber dari perayaan Ekaristi harian yang menjadikan hidup mereka "ekaristis"—mereka merasa terpilih dan diberkati untuk menjadi pribadi yang rela "dipecah dan dibagikan" bagi sesama. Selain Ekaristi, doa Rosario setiap sore menjadi pilar yang mendekatkan mereka pada perlindungan Bunda Maria, yang memberi mereka keberanian serta kesetiaan dalam menghadapi kesulitan hidup.

Keindahan hidup pernikahan ini tercermin dalam kesaksian Beata Maria Quattrocchi yang menyatakan bahwa selama hampir 50 tahun menikah, ia tidak pernah merasa bosan atau jenuh. Baginya, kehidupan yang dijalani dengan ilham ilahi akan selalu menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang dicintai. Pasangan ini menghayati peran mereka sebagai rekan kerja Allah dengan penuh tanggung jawab, terutama dalam mendidik anak-anak agar selalu terbuka terhadap rencana kasih Bapa. Mereka membuktikan bahwa pengabdian total kepada keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata di hadapan Tuhan.

Teladan keterbukaan terhadap rencana Allah ini juga dapat kita temukan dalam sosok Santo Yusuf. Sebagai kepala Keluarga Kudus, Yusuf tampil sebagai pendengar yang sangat baik dan peka terhadap bisikan ilahi. Tanpa banyak bicara, ia segera melaksanakan perintah Tuhan yang disampaikan melalui mimpi, baik saat harus membawa Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir maupun saat kembali ke Israel. Kepatuhan Yusuf tidak hanya lahir dari perintah eksplisit, tetapi juga dari ketajaman batinnya dalam menangkap kehendak Allah di tengah situasi yang mengancam.

Pada akhirnya, setiap keluarga Katolik dipanggil untuk meneladani sikap Yusuf dan pasangan Quattrocchi. Keluarga diharapkan menjadi tempat yang subur bagi pertumbuhan iman, harapan, dan kasih bagi setiap anggotanya. Dengan membuka diri terhadap rencana kasih Allah, keluarga akan menjadi sarana di mana kasih setia Tuhan terpancar dengan nyata, membimbing setiap anggotanya melangkah bersama di jalan kesucian.

INJIL: Mat 2:13-15,19-23

Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."

Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati." Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.

Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

BACAAN PERTAMA: Sir 3:2-6,12-14

Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya.

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.

BACAAN KEDUA: Kol 3:12-21

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.


Renungan Sabtu, 27 Desember 2025: Bukti Kebangkitan / Pesta Yohanes Rasul dan Pengarang Injil; 1Yoh1:1-4; Mzm 97; Yoh 20:2-8

<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Bagi bangsa Yahudi, kematian seseorang dipandang secara definitif setelah proses penguburan dilakukan. Oleh sebab itu, konsep kebangkitan hanya dapat dipahami secara logis jika orang yang telah mati tersebut keluar dan meninggalkan kubur dalam keadaan kosong. Namun, kisah Maria Magdalena, Simon Petrus, dan murid lainnya menunjukkan bahwa melihat kubur yang kosong secara fisik ternyata tidak secara otomatis melahirkan iman. Ketika Maria melapor bahwa Tuhan telah diambil orang, Petrus dan murid lainnya bergegas menuju makam. Mereka memang melihat kain kafan dan kain peluh yang tergeletak, tetapi pada titik itu mereka belum sampai pada keyakinan akan kebangkitan Kristus.

Perbedaan mendalam ini terletak pada cara manusia "melihat". Dalam bahasa Yunani, terdapat kata blepho yang berarti melihat sekadar objek material atau fakta fisik. Penglihatan jenis ini tidak cukup untuk mendatangkan kepercayaan. Perubahan besar baru terjadi ketika murid yang lain masuk ke dalam kubur, lalu ia "melihat dan percaya". Kata melihat yang digunakan kali ini adalah horao, yang merujuk pada penglihatan batin atau sebuah penyingkapan iman. Murid tersebut percaya bukan hanya karena melihat kain kafan yang kosong, melainkan karena saat itu juga ia mendapatkan terang dari Kitab Suci. Ia teringat akan nubuat bahwa Kristus harus bangkit, dan pengertian spiritual inilah yang menjadi dasar kepercayaannya.

Refleksi ini menjadi teguran bagi kita yang sering kali menuntut bukti nyata atau mukjizat fisik sebelum mau beriman. Padahal, penglihatan fisik sering kali terbatas dan menyesatkan. Sebagaimana para murid di makam tersebut, kita diajak untuk beralih dari sekadar melihat fakta (blepho) menuju pemahaman rohani (horao) yang bersumber dari kebenaran Kitab Suci. Iman yang sejati tidak dibangun di atas bukti-bukti yang kasat mata, melainkan atas kesaksian Firman Tuhan yang telah teruji kebenarannya. 

INJIL: Yoh 20:2-8

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan."

Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.

Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.

Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.

BACAAN: 1Yoh1:1-4;

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup—itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.

Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.

Renungan Jumat, 26 Desember 2025: Sarana Penginjilan / Pesta St Stefanus Martir Pertama; Kis 6:8-10; 7:54-59; Mzm 31; Mat 10:17-22

DOAGEREJAKATOLIK

Sarana Penginjilan / Pesta St Stefanus Martir Pertama; Kis 6:8-10; 7:54-59; Mzm 31; Mat 10:17-22


SEJARAH telah membuktikan bahwa sejak dahulu hingga kini, selalu ada pribadi-pribadi tangguh yang rela mempertaruhkan nyawa demi iman mereka. Pengorbanan para martir ini tidaklah sia-sia, melainkan menjadi "benih" yang menyuburkan pertumbuhan umat beriman di seluruh dunia.

Yesus sendiri telah memperingatkan bahwa para pengikut-Nya tidak akan luput dari penderitaan. Mereka mungkin akan diseret ke pengadilan agama atau dianiaya di tempat ibadah. Namun, menariknya, tekanan tersebut justru harus dipandang sebagai peluang emas untuk mewartakan kabar baik. Saat para murid berdiri di hadapan penguasa dan raja, saat itulah mereka menjadi saksi bagi dunia. Dalam situasi sulit tersebut, mereka diminta untuk tidak merasa gentar atau cemas mengenai kata-kata yang harus diucapkan, sebab Roh Bapa sendiri yang akan berbicara melalui mereka.

Konsekuensi dari pilihan untuk setia kepada Yesus memang sangat berat, bahkan bisa memicu perpecahan di dalam keluarga. Perbedaan sikap dalam menerima atau menolak Yesus dapat menciptakan jurang pemisah, di mana saudara bisa mengkhianati saudaranya, dan orang tua serta anak bisa saling berlawanan. Kebencian dunia terhadap nama Yesus adalah realitas yang harus dihadapi, namun ada janji keselamatan bagi mereka yang memiliki keteguhan hati hingga akhir.

Sering kali, kita merasa lelah dan ingin menyerah ketika menghadapi penderitaan hidup. Padahal, melalui perspektif iman, setiap tantangan dan penganiayaan sebenarnya adalah sarana bagi kita untuk menjadi saksi kasih Tuhan yang lebih kuat lagi.

INJIL: Mat 10:17-22
TETAPI waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.

Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.

Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

BACAAN: Kis 6:8-10
DAN Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.

Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini—anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria—bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi. Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah."

Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.

Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku."

Renungan Rabu, 24 Desember 2025: Kidung Zakharia / Hari Biasa Khusus Adven, 2Sam 7:1-5,8b-12,16; Mzm 89:2-3,4-5,27,29; Luk 1:67-79

Hari Biasa Khusus Adven, 2Sam 7:1-5,8b-12,16; Mzm 89:2-3,4-5,27,29; Luk 1:67-79

AJAIB, Zakharia mendadak bisu saat menunaikan tugas di Bait Allah. Ajaib, istrinya yang mandul akhirnya bisa mengandung dan melahirkan dengan selamat. Ajaib, kebisuan Zakharia mendadak lenyap setelah ia memberi nama anaknya Yohanes. Kehadiran Yohanes rupanya disertai banyak keajaiban, tanda bahwa dia bukan manusia biasa. Tak heran masyarakat bertanya-tanya, “Menjadi apakah anak ini nanti?”

Zakharia yang telah pulih imannya tahu, ada karya Allah di balik berbagai peristiwa itu. Kebisuan telah memberinya banyak kesempatan untuk merenung, melihat kembali perjalanan hidupnya. Allah ternyata selalu mengingat dirinya. Maka dari itu, yang pertama keluar dari mulutnya ketika ia kembali bisa berbicara adalah puji-pujian bagi Allah.

Bukan hanya menganugerahkan berkat bagi keluarganya, Zakharia memuji Allah sebab Ia berkenan mengunjungi umat-Nya untuk membebaskan mereka dari penderitaan. Ya, Mesias akan segera hadir. Kegelapan akan tunduk di hadapan sinar-Nya yang cemerlang. Lebih lagi Zakharia bersukacita, sebab anaknya akan ambil bagian dalam karya keselamatan itu.

Ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari. Kehadiran Yesus adalah tanda bagi kita untuk menghentikan setiap kesedihan dan air mata. Ia hadir untuk menghapus itu semua, menggantinya dengan kebahagiaan. Seperti Zakharia, marilah kita bersukacita memuji-Nya. Selamat Natal bagi kita semua!

INJIL: Luk 1:67-79

Luk 1:67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: Luk 1:68 "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Luk 1:69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, Luk 1:70 ?seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus? Luk 1:71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, Luk 1:72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, Luk 1:73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, Luk 1:74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, Luk 1:75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Luk 1:76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, Luk 1:77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, Luk 1:78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, Luk 1:79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."

Bacaan: 2Sam 7:1-5,8b-12

2Sam 7:1 Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling, 2Sam 7:2 berkatalah raja kepada nabi Natan: "Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda." 2Sam 7:3 Lalu berkatalah Natan kepada raja: "Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau." 2Sam 7:4 Tetapi pada malam itu juga datanglah firman TUHAN kepada Natan, demikian: 2Sam 7:5 "Pergilah, katakanlah kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN: Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami? 2Sam 7:8 Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. 2Sam 7:9 Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. 2Sam 7:10 Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, 2Sam 7:11 sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu. 2Sam 7:12 Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. 2Sam 7:16 Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."



Renungan Selasa, 23 Desember 2025: Namanya Yohanes / Hari Biasa Khusus Adven, Mal 3:1-4; 4:5-6; Mzm 25:4-5b,8-9,10,14; Luk 1:57-66

Hari Biasa Khusus Adven, Mal 3:1-4; 4:5-6; Mzm 25:4-5b,8-9,10,14; Luk 1:57-66


INJIL hari ini berkisah tentang peristiwa-peristiwa aneh seputar kelahiran Yohanes, berfokus pada
pemberian nama yang dirasa janggal oleh para tetangga.

Sesuai kabar dari Malaikat Gabriel, Elisabet akhirnya melahirkan anak laki-laki. Para tetangga pun hadir, turut bersukacita bersama keluarga itu. Mereka sadar, Allah ternyata memberkati keluarga Zakharia. Namun, mereka belum paham benar bahwa bayi yang baru lahir itu akan berperan penting dalam karya keselamatan Allah.

Bersimpati pada penderitaan Zakharia yang bisu, para tetangga dengan agresif mengusulkan agar bayi itu diberi nama Zakharia juga. Ini adalah kehendak manusia yang oleh Penginjil Lukas mau dipertentangkan dengan kehendak Allah. Apa pun yang terjadi, kehendak Allahlah yang harus ditaati. Karena itulah, Elisabet dan Zakharia sama-sama menolak usulan para tetangga. Sesuai perintah Allah (1:13), anak itu diberi nama Yohanes.

Yohanes berarti “Tuhan melimpahkan rahmat”. Dengan memberi nama anaknya Yohanes, Zakharia mengimani hal tersebut. Itu juga menunjukkan ketaatannya pada kehendak Allah yang telah menentukan peran bagi anaknya di masa depan. Hukuman baginya lalu dicabut, ia bisa bicara lagi. Sebab, Zakharia yang dulu tidak percaya, sekarang seratus persen percaya kepada Allah.

INJIL: Luk 1:57-66

Luk 1:57 Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki.

Luk 1:58 Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Luk 1:59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,

Luk 1:60 tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes."

Luk 1:61 Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian."

Luk 1:62 Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu.

Luk 1:63 Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya.

Luk 1:64 Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Luk 1:65 Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.

Luk 1:66 Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

Bacaan Pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6;
Mal 3:1 Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.

Mal 3:2 Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.

Mal 3:3 Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.

Mal 3:4 Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.

Mal 4:5 Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.

Mal 4:6 Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

DUA KARAKTER KERAJAAN ALLAH



BACAAN INJIL DARI: 
Markus 4: 26-34

Lalu kata Yesus: ”Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.” Kata-Nya lagi: ”Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.” Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

DUA KARAKTER KERAJAAN ALLAH
Kerajaan Allah, sebuah anugerah ilahi yang tumbuh subur dari benih iman. Ia bagai embun pagi yang menyegarkan jiwa, namun juga ujian bagi kehendak manusia. Sikap kita terhadap anugerah ini akan menjadi penentu arah perjalanan hidup. Perbuatan baik dan buruk bagai benih yang ditabur, akan menuai hasil yang berbeda di masa depan.

Kebenaran tentang Kerajaan Allah seringkali dipandang remeh, seperti biji sesawi yang kecil dan tak berarti. Ia seperti biji sesawi, mungkin sesawi hitam atau putih yang mempunyai kontras unik. Bijinya sangat kecil, antara 1-3 milimeter. Namun, ketika tumbuh, tingginya bisa mencapai 3.000 milimeter, “sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya”. Burung-burung dari berbagai penjuru dunia datang mencari perlindungan di bawah naungannya, melambangkan beragam bangsa yang menemukan kedamaian dan kasih dalam naungan-Nya.

Kasih Allah tak terbatas, bagai samudra yang luas dan dalam. Ia menyelimuti seluruh umat manusia dengan kelembutan dan kasih sayang. Bagi mereka yang membuka hati, kasih Allah akan menjadi sumber kekuatan dan inspirasi, mengubah hidup mereka menjadi berkat bagi dunia.

INGIN MEMPERKENALKAN DIRI DI KJK? SILAKAN ISI GFORM DI www.kontakjodohkristiani.blogspot.com