Renungan Senin, 29 Desember 2025: Penyucian Diri / Hari ke-5 Oktaf Natal; 1Yoh 2:3-11; Mzm 96; Luk 2:22-35
<< DOA GEREJA KATOLIK >>
Hari ke-40 adalah hari
pentahiran bagi seorang ibu yang habis melahirkan. Upacara penghapusan
kenajisan itu wajib, agar dapat ikut lagi melaksanakan peribadatan.
Maria
dan Yusuf pergi ke Bait Allah untuk upacara pentahiran serentak mempersembahkan
Yesus kepada Tuhan. Simeon menyambut Anak itu dan memuji Tuhan karena karya
penyelamatan-Nya telah dinyatakan. Ia yakin bahwa apa yang selama ini
diharapkannya, sekarang telah berada di tangannya. Ia merasa segalanya telah
terpenuhi dan tiada keinginan lain dalam hidupnya. Berkat terang Roh Kudus,
dalam diri Kanak-Kanak Yesus itu ia melihat keselamatan yang dijanjikan Allah
Karya penyelamatan yang dinubuatkannya itulah yang
akan menimbulkan perbantahan dan perpecahan di antara orang-orang Yahudi:
“Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak
orang di Israel dan untuk menimbulkan perbantahan...”
Maka, mereka yang menerima Yesus akan mendapat keselamatan,
sedangkan yang menolak-Nya akan mengalami kejatuhan. Semua itu akan
mendatangkan penderitaan untuk Maria: “Suatu pedang akan menembus jiwamu
sendiri.”
Tidak jarang kita mengklaim kelompok kita saja yang akan diselamatkan.
Padahal, Allah menjanjikannya kepada semua orang percaya.
INJIL: Luk 2:22-35
Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.
Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."
Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan —dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri—supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
BACAAN: 1Yoh 2:3-11
Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.
Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu, sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.
Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan; ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.