Doa Anak
Doa Keluarga
Pribadi
Maria

Latest Stories

Renungan Selasa, 30 Desember 2025: Kisah Janda / Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, dan Yusuf; 1Yoh 2:12-17; Mzm 96:7-8a.8b-9.10; Luk 2:36-40. BcO Kid 1:12-2:7

<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Di masa Palestina kuno, tatanan sosial menempatkan perempuan janda di tingkatan terendah, sebuah kelompok yang sering kali dianggap tidak berarti dan tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Namun, bagi Hana, seorang janda yang telah berusia 84 tahun, status sosial yang rendah dan penderitaan hidup tidak membuatnya pahit hati. Sebaliknya, ia memilih untuk tidak berontak kepada Allah dan justru menambatkan seluruh hidupnya dalam penyerahan diri yang total.

Kesetiaan Hana teruji melalui ketekunannya yang luar biasa, di mana ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan terus beribadah siang malam dengan berpuasa serta berdoa. Kedekatan batin inilah yang memampukannya memiliki kepekaan rohani untuk mengenali kehadiran Tuhan. Buah dari kesabarannya terbayar lunas ketika ia diizinkan bertemu dengan Kanak-kanak Yesus yang sedang dipersembahkan oleh Maria dan Yusuf di Bait Allah.

Sebagai seorang nabi, Hana segera menyadari bahwa bayi tersebut adalah jawaban atas doa-doa bangsa Yahudi yang sedang menderita di bawah penindasan kekaisaran Romawi. Ia pun dengan penuh syukur mewartakan tentang Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan bagi Yerusalem. Hana menegaskan bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Pembebas sejati dari keturunan Daud yang akan memulihkan harapan bangsa yang sedang dijajah tersebut.

Kisah Hana menjadi teguran sekaligus pengingat bagi kita di masa kini. Sering kali kita merasa ragu akan kemampuan Yesus dalam menyelamatkan atau memulihkan keadaan kita, padahal kita secara sadar mengakui bahwa Dia adalah Mesias. Melalui teladan Hana, kita diajak untuk tetap setia dan percaya sepenuhnya pada kuasa penyelamatan Tuhan, bahkan di tengah situasi yang tampaknya paling tidak berdaya sekalipun.

INJIL: Luk 2:36-40

Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

BACAAN: 1Yoh 2:12-17

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat.

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.


Renungan Senin, 29 Desember 2025: Penyucian Diri / Hari ke-5 Oktaf Natal; 1Yoh 2:3-11; Mzm 96; Luk 2:22-35


<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Hari ke-40 adalah hari pentahiran bagi seorang ibu yang habis melahirkan. Upacara penghapusan kenajisan itu wajib, agar dapat ikut lagi melaksanakan peribadatan.

Maria dan Yusuf pergi ke Bait Allah untuk upacara pentahiran serentak mempersembahkan Yesus kepada Tuhan. Simeon menyambut Anak itu dan memuji Tuhan karena karya penyelamatan-Nya telah dinyatakan. Ia yakin bahwa apa yang selama ini diharapkannya, sekarang telah berada di tangannya. Ia merasa segalanya telah terpenuhi dan tiada keinginan lain dalam hidupnya. Berkat terang Roh Kudus, dalam diri Kanak-Kanak Yesus itu ia melihat keselamatan yang dijanjikan Allah

Karya penyelamatan yang dinubuatkannya itulah yang akan menimbulkan perbantahan dan perpecahan di antara orang-orang Yahudi: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menimbulkan perbantahan...”

Maka, mereka yang menerima Yesus akan mendapat keselamatan, sedangkan yang menolak-Nya akan mengalami kejatuhan. Semua itu akan mendatangkan penderitaan untuk Maria: “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.”

Tidak jarang kita mengklaim kelompok kita saja yang akan diselamatkan. Padahal, Allah menjanjikannya kepada semua orang percaya.

INJIL:  Luk 2:22-35

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah", dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus.

Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat, ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia. Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan —dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri—supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."


BACAAN: 1Yoh 2:3-11

Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti
perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu, sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.

Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan; ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

Renungan Minggu, 28 Desember 2025: Keluarga: Jalan Menuju Kesucian / Pesta Keluarga Kudus: Sir 3:2-6,12-14; Mzm 128; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15,19-23


<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Sebuah peristiwa bersejarah terjadi pada 21 Oktober 2001 ketika Paus Yohanes Paulus II memberikan gelar beato dan beata kepada sepasang suami-istri, Luigi Beltrame Quattrocchi dan Maria Corsini. Momen ini menjadi sangat istimewa karena untuk pertama kalinya dalam sejarah Gereja Katolik, pasangan suami-istri bersama-sama diangkat sebagai teladan kesucian. Melalui peristiwa ini, Gereja ingin menegaskan bahwa keluarga bukanlah sekadar institusi sosial, melainkan jalan nyata menuju kekudusan. Kesucian hidup berkeluarga bukanlah sebuah angan-angan, melainkan sesuatu yang mungkin, indah, dan sangat dibutuhkan oleh Gereja serta masyarakat modern saat ini.

Luigi dan Maria, yang menikah pada tahun 1905, merupakan pasangan awam biasa yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang luar biasa. Di tengah tantangan iman yang besar pada awal abad ke-20, mereka berhasil menjaga nyala iman dalam keluarga dan menanamkannya kepada keempat anak mereka. Kekuatan spiritual mereka bersumber dari perayaan Ekaristi harian yang menjadikan hidup mereka "ekaristis"—mereka merasa terpilih dan diberkati untuk menjadi pribadi yang rela "dipecah dan dibagikan" bagi sesama. Selain Ekaristi, doa Rosario setiap sore menjadi pilar yang mendekatkan mereka pada perlindungan Bunda Maria, yang memberi mereka keberanian serta kesetiaan dalam menghadapi kesulitan hidup.

Keindahan hidup pernikahan ini tercermin dalam kesaksian Beata Maria Quattrocchi yang menyatakan bahwa selama hampir 50 tahun menikah, ia tidak pernah merasa bosan atau jenuh. Baginya, kehidupan yang dijalani dengan ilham ilahi akan selalu menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang dicintai. Pasangan ini menghayati peran mereka sebagai rekan kerja Allah dengan penuh tanggung jawab, terutama dalam mendidik anak-anak agar selalu terbuka terhadap rencana kasih Bapa. Mereka membuktikan bahwa pengabdian total kepada keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata di hadapan Tuhan.

Teladan keterbukaan terhadap rencana Allah ini juga dapat kita temukan dalam sosok Santo Yusuf. Sebagai kepala Keluarga Kudus, Yusuf tampil sebagai pendengar yang sangat baik dan peka terhadap bisikan ilahi. Tanpa banyak bicara, ia segera melaksanakan perintah Tuhan yang disampaikan melalui mimpi, baik saat harus membawa Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir maupun saat kembali ke Israel. Kepatuhan Yusuf tidak hanya lahir dari perintah eksplisit, tetapi juga dari ketajaman batinnya dalam menangkap kehendak Allah di tengah situasi yang mengancam.

Pada akhirnya, setiap keluarga Katolik dipanggil untuk meneladani sikap Yusuf dan pasangan Quattrocchi. Keluarga diharapkan menjadi tempat yang subur bagi pertumbuhan iman, harapan, dan kasih bagi setiap anggotanya. Dengan membuka diri terhadap rencana kasih Allah, keluarga akan menjadi sarana di mana kasih setia Tuhan terpancar dengan nyata, membimbing setiap anggotanya melangkah bersama di jalan kesucian.

INJIL: Mat 2:13-15,19-23

Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."

Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati." Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.

Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

BACAAN PERTAMA: Sir 3:2-6,12-14

Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya.

Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.

BACAAN KEDUA: Kol 3:12-21

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.


Peringatan Sabtu, 27 Desember 2025: Peringatan Santo Yohanes, Rasul dan Pengarang Injil

<< DOA GEREJA KATOLIK >>


Santo Yohanes: Dari Nelayan Galilea Menjadi Murid yang Dikasihi dan Pilar Gereja

Di dusun nelayan Betsaida, di tepi Danau Genesaret, hiduplah seorang pemuda bernama Yohanes. Ia adalah putra dari Zebedeus, seorang nelayan yang cukup berkecukupan, dan Salome, seorang wanita saleh yang setia melayani Yesus, bahkan hingga di kaki salib dan kubur-Nya. Bersama kakaknya, Yakobus, dan temannya, Petrus, Yohanes adalah bagian dari lingkaran terdekat Yesus, sebuah kelompok inti yang menjadi saksi mata peristiwa-peristiwa paling penting dalam pelayanan Yesus: kebangkitan putri Yairus, transfigurasi di Gunung Tabor, dan doa pilu di Taman Getsemani. Bahkan sebelum bertemu Yesus, Yohanes dan Andreas adalah murid dari Yohanes Pembaptis, dan dari sanalah mereka diutus untuk bertanya kepada Yesus, "Rabbi, di manakah Engkau tinggal?" – sebuah pertanyaan yang membuka jalan bagi panggilan terbesar dalam hidup mereka.

Pada awalnya, Yohanes dan Yakobus dikenal sebagai "putra-putra guntur" karena temperamen mereka yang meledak-ledak. Ada kisah di mana mereka meminta kepada Yesus, melalui ibu mereka, agar mereka dapat duduk di kanan dan kiri-Nya dalam Kerajaan nanti. Dengan berani, mereka bersedia meminum "cawan sengsara" demi kehormatan itu. Yesus memang mengiyakan bahwa mereka akan minum cawan itu, namun menegaskan bahwa posisi duduk di Kerajaan adalah hak prerogatif Bapa-Nya di surga. Namun, seiring waktu dan kedekatan dengan Yesus, karakter Yohanes mulai ditempa dan dibentuk. Ia berkembang menjadi sosok yang begitu dicintai oleh Yesus, hingga ia dikenal sebagai "murid yang dikasihi Yesus," sebuah julukan yang secara misterius muncul dalam Injilnya sendiri pada bab 13 dan 21, tanpa pernah menyebut namanya secara langsung.

Kesetiaan Yohanes tidak tergoyahkan. Di saat banyak murid lain melarikan diri, ia adalah satu-satunya rasul yang berani berdiri di bawah kaki salib Yesus di Kalvari, mendampingi Bunda Maria dalam kepedihan yang mendalam. Di sana, di momen paling tragis itu, Yesus menyerahkan Bunda Maria ke dalam pemeliharaan Yohanes dengan pesan, "Inilah ibumu," dan Yohanes menerima tugas suci itu dengan penuh tanggung jawab. Setelah Pentakosta, ia menjadi pilar Gereja perdana, bekerja bahu-membahu dengan Petrus di Yerusalem dan Samaria, untuk mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang yang baru dibaptis. Paulus bahkan menjulukinya sebagai "tiang agung Gereja."

Sekitar tahun 60 M, Yohanes berlayar ke Asia Kecil dan menjadi Uskup Agung di kota Efesus. Namun, pelayanan dan ajaran imannya tidak luput dari penganiayaan. Menurut Kitab Wahyu, ia pernah dibuang ke Pulau Patmos karena kesaksiannya tentang Yesus. Setelah kembali dari pengasingan, di Efesuslah ia menulis Injilnya yang keempat, sebuah karya teologis yang mendalam, kaya akan refleksi spiritual tentang identitas Yesus sebagai Firman yang menjadi daging, dan kasih Allah yang tak terbatas. Ia juga menulis tiga surat yang memperdalam pemahaman tentang kasih dan kebenaran Kristen.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, saat usia telah senja, khotbah Yohanes semakin sederhana namun penuh makna. Pesannya selalu sama: "Anak-anakku, cobalah kamu saling mencintai." Ketika ditanya mengapa ajarannya selalu itu-itu saja, ia menjawab dengan lembut, "Sebab itulah perintah Tuhan yang utama dan jikalau kamu melakukannya, sudah cukuplah yang kamu perbuat." Santo Yohanes adalah rasul terakhir yang meninggal dunia, sekitar tahun 100 M, pada masa pemerintahan Kaisar Trayanus, meninggalkan warisan iman, kasih, dan tulisan-tulisan suci yang tak ternilai bagi seluruh umat Kristiani hingga akhir zaman.

Peringatan Jumat, 26 Desember 2025: Peringatan St Stefanus Martir Pertama

<< DOA GEREJA KATOLIK >>


Kisah Santo Stefanus bermula ketika Gereja perdana di Yerusalem mengalami pertumbuhan pesat, yang menuntut adanya pembagian tugas pelayanan yang lebih teratur. Sebagai salah satu dari tujuh diaken pertama, Stefanus dipilih bukan hanya karena kecakapannya dalam melayani sesama, tetapi terutama karena ia dikenal sebagai pribadi yang penuh iman dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Ia tidak hanya melayani kebutuhan jasmani umat, tetapi juga bergerak dengan penuh kuasa melalui tanda-tanda heran dan mujizat di tengah masyarakat, yang membuat sosoknya menjadi terang yang mencolok bagi banyak orang.

Namun, kehadiran Stefanus memicu pertentangan dari kelompok-kelompok Yahudi tertentu yang merasa terancam oleh ajaran tentang Yesus yang dibawakannya. Meskipun mereka mencoba menjatuhkannya melalui debat dan adu argumen, tidak satu pun dari mereka sanggup menandingi hikmat dan dorongan Roh yang menyertai setiap perkataannya. Karena merasa terdesak dan kalah, mereka mulai menghasut massa dan menyebarkan tuduhan palsu bahwa Stefanus telah menghujat Allah serta hukum Taurat, hingga akhirnya ia diseret ke hadapan Mahkamah Agama untuk diadili.

Di tengah suasana pengadilan yang penuh ketegangan, wajah Stefanus justru memancarkan kedamaian yang luar biasa, digambarkan bersinar seperti wajah seorang malaikat. Dengan penuh keberanian, ia menyampaikan pidato pembelaan yang tajam, mengingatkan para pemimpin agama tentang sejarah ketidaksetiaan nenek moyang mereka terhadap para nabi. Puncak dari ketegangan itu terjadi ketika Stefanus menengadah ke langit dan menyatakan bahwa ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan-Nya. Pernyataan ini dianggap sebagai penghujatan besar oleh para pendengarnya yang kemudian menutup telinga dan menyerbunya dengan amarah yang meluap.

Stefanus akhirnya diseret ke luar tembok kota untuk dieksekusi dengan cara dirajam. Di saat-saat terakhir hidupnya, di bawah hujan batu yang menghujam tubuhnya, ia menunjukkan kemuliaan kasih Kristus yang sesungguhnya melalui pengampunan. Sambil berlutut, ia berseru kepada Tuhan agar dosa orang-orang yang menganiayanya tidak ditanggungkan kepada mereka. Di dekat sana, seorang pemuda bernama Saulus menyaksikan seluruh kejadian itu dengan penuh persetujuan. Kematian Stefanus sebagai martir pertama tidak hanya menjadi bukti keteguhan iman, tetapi juga menjadi benih bagi pertobatan besar di kemudian hari, termasuk perubahan hidup Saulus menjadi Rasul Paulus.

BACAAN Selasa, 30 Desember 2025: 1Yoh 2:12-17

<< DOA GEREJA KATOLIK >>

BACAAN: 1Yoh 2:12-17

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu telah mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat.

Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, karena kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepada kamu, hai bapa-bapa, karena kamu mengenal Dia, yang ada dari mulanya. Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.

Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

INJIL Selasa, 30 Desember 2025: Luk 2:36-40

<< DOA GEREJA KATOLIK >>

INJIL: Luk 2:36-40

Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

BACAAN: Mal 3:1-4; 4:5-6

<< DOA GEREJA KATOLIK >>
Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam. Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN. Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah. Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu. Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.

INJIL: Luk 1:57-66

<< DOA GEREJA KATOLIK >>

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan iapun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan merekapun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.

BACAAN: 1Yoh 2:3-11

<< DOA GEREJA KATOLIK >>

BACAAN: 1Yoh 2:3-11

Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya; barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran; tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia; barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup; saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya, perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar; namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu, sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya; barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang; barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan; tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.