Luigi dan Maria, yang menikah pada tahun 1905, merupakan pasangan awam biasa yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan cara yang luar biasa. Di tengah tantangan iman yang besar pada awal abad ke-20, mereka berhasil menjaga nyala iman dalam keluarga dan menanamkannya kepada keempat anak mereka. Kekuatan spiritual mereka bersumber dari perayaan Ekaristi harian yang menjadikan hidup mereka "ekaristis"—mereka merasa terpilih dan diberkati untuk menjadi pribadi yang rela "dipecah dan dibagikan" bagi sesama. Selain Ekaristi, doa Rosario setiap sore menjadi pilar yang mendekatkan mereka pada perlindungan Bunda Maria, yang memberi mereka keberanian serta kesetiaan dalam menghadapi kesulitan hidup.
Keindahan hidup pernikahan ini tercermin dalam kesaksian Beata Maria Quattrocchi yang menyatakan bahwa selama hampir 50 tahun menikah, ia tidak pernah merasa bosan atau jenuh. Baginya, kehidupan yang dijalani dengan ilham ilahi akan selalu menghadirkan kebahagiaan bagi orang-orang yang dicintai. Pasangan ini menghayati peran mereka sebagai rekan kerja Allah dengan penuh tanggung jawab, terutama dalam mendidik anak-anak agar selalu terbuka terhadap rencana kasih Bapa. Mereka membuktikan bahwa pengabdian total kepada keluarga adalah bentuk ibadah yang nyata di hadapan Tuhan.
Teladan keterbukaan terhadap rencana Allah ini juga dapat kita temukan dalam sosok Santo Yusuf. Sebagai kepala Keluarga Kudus, Yusuf tampil sebagai pendengar yang sangat baik dan peka terhadap bisikan ilahi. Tanpa banyak bicara, ia segera melaksanakan perintah Tuhan yang disampaikan melalui mimpi, baik saat harus membawa Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir maupun saat kembali ke Israel. Kepatuhan Yusuf tidak hanya lahir dari perintah eksplisit, tetapi juga dari ketajaman batinnya dalam menangkap kehendak Allah di tengah situasi yang mengancam.
Pada akhirnya, setiap keluarga Katolik dipanggil untuk meneladani sikap Yusuf dan pasangan Quattrocchi. Keluarga diharapkan menjadi tempat yang subur bagi pertumbuhan iman, harapan, dan kasih bagi setiap anggotanya. Dengan membuka diri terhadap rencana kasih Allah, keluarga akan menjadi sarana di mana kasih setia Tuhan terpancar dengan nyata, membimbing setiap anggotanya melangkah bersama di jalan kesucian.
INJIL: Mat 2:13-15,19-23
Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku."
Setelah Herodes mati, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi di Mesir, katanya: "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel, karena mereka yang hendak membunuh Anak itu, sudah mati." Lalu Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel.
Tetapi setelah didengarnya, bahwa Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan Herodes, ayahnya, ia takut ke sana. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.
BACAAN PERTAMA: Sir 3:2-6,12-14
Memang Tuhan telah memuliakan bapa pada anak-anaknya, dan hak ibu atas para anaknya diteguhkan-Nya. Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa, dan siapa memuliakan ibunya serupa dengan orang yang mengumpulkan harta. Barangsiapa menghormati bapanya, ia sendiri akan mendapat kesukaan pada anak-anaknya pula, dan apabila bersembahyang, niscaya doanya dikabulkan. Barangsiapa memuliakan bapanya akan panjang umurnya, dan orang yang taat kepada Tuhan menenangkan ibunya.
Anakku, tolonglah bapamu pada masa tuanya, jangan menyakiti hatinya di masa hidupnya. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya. Kebaikan yang ditunjukkan kepada bapa tidak sampai terlupa, melainkan dibilang sebagai pemulihan segala dosamu.
BACAAN KEDUA: Kol 3:12-21
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.