Peringatan Jumat, 26 Desember 2025: Peringatan St Stefanus Martir Pertama

20.09 Kontak Jodoh Katolik 0 Comments

<< DOA GEREJA KATOLIK >>


Kisah Santo Stefanus bermula ketika Gereja perdana di Yerusalem mengalami pertumbuhan pesat, yang menuntut adanya pembagian tugas pelayanan yang lebih teratur. Sebagai salah satu dari tujuh diaken pertama, Stefanus dipilih bukan hanya karena kecakapannya dalam melayani sesama, tetapi terutama karena ia dikenal sebagai pribadi yang penuh iman dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Ia tidak hanya melayani kebutuhan jasmani umat, tetapi juga bergerak dengan penuh kuasa melalui tanda-tanda heran dan mujizat di tengah masyarakat, yang membuat sosoknya menjadi terang yang mencolok bagi banyak orang.

Namun, kehadiran Stefanus memicu pertentangan dari kelompok-kelompok Yahudi tertentu yang merasa terancam oleh ajaran tentang Yesus yang dibawakannya. Meskipun mereka mencoba menjatuhkannya melalui debat dan adu argumen, tidak satu pun dari mereka sanggup menandingi hikmat dan dorongan Roh yang menyertai setiap perkataannya. Karena merasa terdesak dan kalah, mereka mulai menghasut massa dan menyebarkan tuduhan palsu bahwa Stefanus telah menghujat Allah serta hukum Taurat, hingga akhirnya ia diseret ke hadapan Mahkamah Agama untuk diadili.

Di tengah suasana pengadilan yang penuh ketegangan, wajah Stefanus justru memancarkan kedamaian yang luar biasa, digambarkan bersinar seperti wajah seorang malaikat. Dengan penuh keberanian, ia menyampaikan pidato pembelaan yang tajam, mengingatkan para pemimpin agama tentang sejarah ketidaksetiaan nenek moyang mereka terhadap para nabi. Puncak dari ketegangan itu terjadi ketika Stefanus menengadah ke langit dan menyatakan bahwa ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan-Nya. Pernyataan ini dianggap sebagai penghujatan besar oleh para pendengarnya yang kemudian menutup telinga dan menyerbunya dengan amarah yang meluap.

Stefanus akhirnya diseret ke luar tembok kota untuk dieksekusi dengan cara dirajam. Di saat-saat terakhir hidupnya, di bawah hujan batu yang menghujam tubuhnya, ia menunjukkan kemuliaan kasih Kristus yang sesungguhnya melalui pengampunan. Sambil berlutut, ia berseru kepada Tuhan agar dosa orang-orang yang menganiayanya tidak ditanggungkan kepada mereka. Di dekat sana, seorang pemuda bernama Saulus menyaksikan seluruh kejadian itu dengan penuh persetujuan. Kematian Stefanus sebagai martir pertama tidak hanya menjadi bukti keteguhan iman, tetapi juga menjadi benih bagi pertobatan besar di kemudian hari, termasuk perubahan hidup Saulus menjadi Rasul Paulus.